Pojok Kampus

Hidup Berdampingan dengan Bencana: Menjelang Kesadaran Kolektif dan Ketangguhan Bangsa

Oleh: Ir. I Wayan Ariyana Basoka, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM. (Wakil Dekan Fakultas Teknik dan Perencanaan Universitas Warmadewa bidang Akademik, riset, dan pengabdian kepada Masyarakat)

Indonesia berdiri di atas hamparan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire), sebuah kawasan geologis yang ditandai oleh pergerakan lempeng tektonik paling aktif di planet bumi. Pertemuan lempeng-lempeng raksasa seperti Lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik menciptakan dinamika kerak bumi yang konstan, ditandai oleh keberadaan ratusan gunung berapi aktif serta bentang alam yang didominasi oleh perbukitan terjal dan pegunungan tinggi. Dalam konstelasi geologis yang demikian, gempa bumi, letusan gunung api, hingga tsunami bukanlah peristiwa acak yang datang tanpa alasan, melainkan sebuah keniscayaan dan siklus alamiah yang pasti berulang. Wilayah Nusantara sejatinya adalah arena kerentanan geologis sekaligus laboratorium alam yang senantiasa bergerak. Dalam realitas ini, pilihan yang tersisa bagi bangsa Indonesia bukanlah berlari menolak kenyataan atau sekadar meratapi takdir, melainkan menginternalisasi sebuah paradigma baru: hidup berdampingan dengan bencana secara adaptif dan terstruktur.

Kendati status kerentanan geologis ini telah disadari secara akademis dan teknis, tingkat kesiapsiagaan masyarakat di tingkat akar rumput kerap kali masih berada pada taraf yang mengkhawatirkan. Ketika guncangan gempa bumi terjadi, respons dominan yang muncul di tengah warga sering kali masih didasari oleh kepanikan instingtif ketimbang tindakan terencana yang berbasis pengetahuan mitigasi. Banyak warga yang belum memahami secara pasti prosedur standar evakuasi mandiri, seperti kemana harus berlindung saat guncangan berlangsung, bagaimana mengamankan area sekitar dari potensi bahaya sekunder, serta langkah logistik dan medis krusial apa yang wajib dilakukan pada fase awal pascabencana.

Ketiadaan literasi mitigasi bencana dapat berdampak sangat fatal pada tingkat keselamatan jiwa. Rekam jejak sejarah mencatat tragedi Tsunami Aceh pada tahun 2004 sebagai pengingat pahit betapa minimnya pengetahuan masyarakat kala itu mengenai fenomena gelombang laut pascagempa dahsyat. Ketidaksiapan dan ketidakfahaman tersebut berkontribusi secara signifikan pada lambatnya respons evakuasi, sehingga menelan ratusan ribu korban jiwa. Begitu pula dalam peristiwa gempa bumi dalam skala yang lebih kecil sehari-hari; kepanikan spontan seperti berlari keluar bangunan secara terburu-buru tanpa memperhitungkan potensi jatuhan reruntuhan dinding, plafon, atau material kaca masih menjadi penyebab utama munculnya cedera kepala berat hingga kematian yang sebetulnya sangat mungkin dihindari apabila masyarakat dibekali dengan naluri pertahanan diri yang tepat.

Oleh karena itu, reorientasi total terhadap paradigma penanggulangan bencana menjadi sebuah kebutuhan mendesak bagi bangsa Indonesia. Kita harus dengan tegas bergeser dari pola pikir reaktif yang fokusnya baru tercurah pada penanganan tanggap darurat pascabencana (emergency response), menuju pendekatan preventif dan adaptif yang terintegrasi secara berkelanjutan. Dalam kerangka kerja ini, penguatan dan pengembangan kapasitas masyarakat berbasis komunitas memegang peranan yang sangat sentral. Masyarakat lokal pada dasarnya adalah garda terdepan (first responder) yang berada di lokasi saat bencana melanda, jauh sebelum bantuan pemerintah atau relawan luar tiba. Pembentukan dan pembinaan Komunitas Tangguh Bencana yang digalakkan secara konsisten oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) beserta jajaran daerah perlu ditransformasikan menjadi gerakan masif. Program pelatihan, penyuluhan, dan simulasi evakuasi berkala tidak boleh lagi sekadar dipandang sebagai agenda seremonial atau formalitas administratif semata, melainkan harus diinternalisasikan sebagai bagian dari tradisi dan budaya keselamatan warga sehari-hari.

Selain kesiapsiagaan sosial dan kelembagaan di tingkat warga, ketahanan fisik melalui pengembangan teknologi dan rekayasa keteknikan juga merupakan pilar utama dalam mewujudkan gagasan hidup berdampingan dengan bencana. Pengaplikasian teknologi peredam gempa pada bangunan, penerapan standar rekayasa struktur tahan gempa, serta pemanfaatan material konstruksi yang fleksibel namun kokoh merupakan investasi mutlak untuk meminimalisir risiko kerusakan fatal dan kerugian jiwa. Dalam konteks ini, kita perlu belajar dari praktik terbaik yang ditunjukkan oleh negara tetangga di kawasan Pasifik, yaitu Jepang.

Sebagai negara yang berdiri di atas jalur geologis aktif dengan ancaman gempa bumi dan tsunami yang konstan, Jepang berhasil membuktikan bahwa bencana tidak harus selalu berujung pada malapetaka massal jika diimbangi dengan kesiapan yang matang. Di Jepang, edukasi kebencanaan telah diintegrasikan secara komprehensif ke dalam kurikulum pendidikan sejak usia dini. Anak-anak sejak tingkat taman kanak-kanak telah terbiasa melatih refleks pertahanan diri melalui simulasi rutin. Kesiapsiagaan mental warga ini kemudian ditopang secara kokoh oleh regulasi tata bangunan yang sangat ketat, di mana inovasi teknologi peredam gempa pada gedung-gedung bertingkat menjadi standar wajib, serta didukung oleh infrastruktur sistem peringatan dini (early warning system) yang terintegrasi secara cerdas melalui jaringan komunikasi nasional. Sinergisme antara budaya mitigasi masyarakat dan kecanggihan teknologi rekayasa inilah yang membuat Jepang mampu menekan angka mortalitas secara signifikan ketika bencana besar melanda.

Memahami dan menerapkan pendekatan holistik tersebut mempertegas bahwa keberhasilan penanggulangan bencana di Indonesia harus ditanamkan dari tingkat akar rumput. Membekali masyarakat terdampak dengan literasi kebencanaan, keterampilan bertahan hidup, serta dukungan infrastruktur yang ramah bencana adalah langkah paling rasional untuk membangun ketahanan nasional yang nyata. Hidup berdampingan dengan bencana bukanlah bentuk kepasrahan atau keputusasaan terhadap kondisi alam, melainkan wujud adaptasi beradab, kesiapsiagaan yang terencana, serta wujud tanggung jawab kolektif kita dalam menjaga keselamatan generasi hari ini dan menjamin masa depan yang lebih aman bagi anak cucu kita di tanah air ini.

Humas Universitas Warmadewa Melaporkan

You may also like...